Minggu, 02 Mei 2010

SEMEN HOLCIM



Alkisah Yanto yang baru saja diangkat menjadi Manager. Gajinya meningkat lebih dari dua kali lipat, dari sebelumnya 4 juta menjadi 10 juta r

Berhentilah Merokok, Demi Hari Tua Anda

Mungkin para perokok tidak sadar bahwa merokok itu adalah kebiasaan yang harus dibayar mahal. Mengapa? Karena merokok itu dapat menyebabkan kecanduan. Begitu Anda kecanduan rokok, kalau tidak merokok, rasanya beda. Oleh karena itu Anda akan terus-menerus mengkonsumsi rokok. Asumsi saja dalam sehari, perokok mengkomsumsi 1 kotak rokok yang harganya Rp. 8.000,-. Dalam satu bulan, uang yang dikeluarkan untuk membeli rokok adalah 30 dikali Rp. 8.000, yaitu Rp. 240.000,-. Dalam setahun, perokok akan menghabiskan uang sebesar Rp. 2.880.000,- untuk kebiasaannya.

Selain dari sisi uang, perokok juga harus membayar mahal dalam hal kesehatannya. Pemerintah sudah memberikan peringatan, dan peringatan ini sudah dicantumkan di setiap iklan rokok, bahkan dalam rokoknya itu sendiri. “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Hasil penelitian telah menunjukan bahwa merokok dapat menyebabkan banyak penyakit yang berbahaya. Pada saat perokok jatuh sakit karena kebiasaannya, mereka harus membayar jutaan untuk berobat.


Sekarang bayangkan apabila perokok bisa menghentikan kebiasaan merokoknya. Artinya perokok tidak perlu mengeluarkan Rp. 240.000,- setiap bulannya untuk membayar rokok. Uang yang dihemat ini dapat diinvestasikan ke reksa dana. Kita asumsikan tingkat kembalian reksa dana 20% per tahun. Apabila umur perokok sekarang adalah 30 tahun dan ingin pensiun pada umur 55 tahun. Dengan menginvestasikan secara rutin Rp. 240.000,- per bulan selama 25 tahun, maka orang tersebut akan mendapatkan hasil sebesar Rp. 2.036.468,810-. Hasilnya sebesar dua milyar!!! Luar Biasa!!!

Apabila Anda memiliki kebiasaan merokok, manakah yang Anda pilih?
1. Hari tua yang sakit-sakitan dan tidak memiliki uang.
2. Hari tua yang sehat dan memiliki uang 2 Milyar untuk biaya pensiun.

Apabila Anda memilih yang nomor 2, jangan ragu lagi. Berhentilah merokok dan investasikan uang yang biasanya Anda gunakan untuk membeli rokok.

Perencanaan Keuangan Keluarga Lewat Tabungan

Di mana pun kita berada, langsung ataupun tidak langsung,setiap aktivitas yang kita lakukan selalu berhubungan dengan uang, dan semua itu bermuara ke arah pengeluaran atau pemerolehan uang.Yang menjadi kunci utama bagi kita dalam menyikapi uang di zaman modern ini adalah intensitas dan kualitas kita dalam mengelola uang yang kita miliki saat ini.

Konkretnya, apa yang harus dilakukan dalam mengelola uang sehingga kita bisa mendapatkan kepuasan dan manfaat yang maksimal dari setiap rupiah yang kita miliki? Kalimat bijak menyatakan bahwa semakin cakap kita mengelola uang, semakin besar manfaat dan keuntungan yang kita peroleh. Dengan kata lain, perencanaan keuangan yang semakin matang akan memperbesar manfaat dan kepuasan yang akan kita peroleh dari setiap rupiah yang kita miliki.

Kendala Membangun Budaya Menabung
Mengapa pengelolaan keuangan menjadi begitu penting dalam kehidupan kita? Pada dasarnya, kita semua memiliki tujuan dan impian yang berkaitan dengan uang atau kita sebut dengan tujuan keuangan. Direncanakan atau tidak, kita mendambakan kehidupan yang lebih baik ke depannya, dan itu berhubungan dengan kehidupan yang lebih sejahtera dengan dukungan keuangan yang memadai untuk menjalankan beragam aktivitas yang kita idamkan.

Tujuan dan impian yang kita miliki akan terus dipengaruhi oleh keadaan dan situasi kita saat ini,dan itu terkait pula dengan harapan serta aspirasi kita di masa depan. Misalnya, seperti apakah tujuan dan aspirasi keuangan yang kita inginkan di masa depan demi kebahagiaan kita dan keluarga?

Kapan idealnya impian itu bisa menjadi realita dan keluarga kita bisa menikmatinya? Atau, berapa tahun lagi kita merencanakan agar impian itu bisa menjadi kenyataan dalam keluarga? Beberapa tujuan/ impian dan aspirasi yang umumnya hendak kita capai atau kita dapatkan ke depannya,antara lain keinginan untuk membeli mobil baru,memiliki rumah yang lebih besar di kawasan yang lebih baik, atau menikmati perjalanan liburan akhir tahun ke luar negeri.

Impian kita juga bisa berupa ketersediaan uang pendidikan bagi anak-anak tercinta pada kurun waktu belasan tahun yang akan datang. Kita juga memiliki impian untuk bisa menikmati hari tua yang sejahtera. Atau, kita bisa mendapatkan uang jaminan kesehatan pada masa yang akan datang.

Semua kondisi itu nantinya akan tergapai dengan baik jika saat ini kita sudah mulai melakukan perencanaan keuangan secara cermat. Keberhasilan kita dalam memenuhi inspirasi dan tujuan keuangan di masa depan sangat bergantung pula pada kemampuan kita dalam mengelola keuangan saat ini.

Tanpa kita sadari,sering kali kita melakukan kesalahan dalam mengelola keuangan,misalnya membelanjakan uang secara berlebihan melalui pemakaian kartu kredit karena keinginan untuk membeli barang-barang yang menarik (dorongan impulse buying). Kita pun sering kehabisan dan kekurangan uang untuk membayar kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Akibatnya, kita terpaksa menggunakan uang tabungan untuk menutup kekurangan tersebut. Bahkan, kita harus berutang kepada orang lain atau pihak lain untuk memenuhi biaya kehidupan bulanan dalam rumah tangga. Ketika beragam kondisi itu terjadi dalam hidup kita, itu ber-arti kita gagal dalam menyisihkan sejumlah uang untuk alokasi tabungan demi kebutuhan keuangan jangka panjang.

Seyogianya kita bisa mengelola penghasilan yang kita peroleh saat ini, dan beberapa persen dari penghasilan itu kita sisihkan untuk mewujudkan beragam impian itu dalam bentuk tabungan. Secara esensial, tekad untuk mengumpulkan dan menyimpan uang dalam bentuk tabungan demi kesejahteraan keluarga di masa depan sudah menjadi keharusan bagi kita.

Faktanya, kebiasaan menabung yang notabene merupakan salah satu kiat cermat dalam merencanakan masa depan keluarga yang bahagia sering kali tidak terealisasi akibat beragam kesalahan yang kita lakukan. Umumnya, instrumen tabungan yang paling dikenal masyarakat kita saat ini adalah menabung melalui bank.

Kebiasaan menabung di bank amatlah penting untuk dapat memenuhi kebutuhan keuangan kita, khususnya dalam jangka pendek. Namun, kita sering menghadapi banyak tantangan dan kegagalan dalam mengakumulasi uang demi perencanaan keuangan jangka panjang lewat skema tabungan melalui bank.

Kegagalan atau kekurangan yang acap kali terjadi ketika kita hendak menabung umumnya disebabkan oleh beberapa kondisi berikut ini. Pertama, kurangnya kedisiplinan kita dalam menabung sejumlah uang secara teratur setiap bulan. Dalam hal ini,kita cenderung menundakeinginanuntukmenabungkarena kita merasa tidak ada kewajiban yang hakiki untuk melakukannya.

Kedua, godaan untuk menarik dana dari tabunganyangkitamilikigunamemuaskan kebutuhan belanja yang tidak perlu. Ketiga, umumnya kita merasa bahwa kita membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa mengakumulasi jumlah uang dalam jumlah besar melalui skema menabung.

Akibatnya, kebiasaan menabung yang seharusnya kita lakukan terkendala dengan fenomena tersebut. Bila komitmen untuk menabung sering kali terkendala dengan munculnya beragam kesalahan tersebut,adakah solusi yang bisa kita terapkan untuk mewujudkan impian atau aspirasi kita di masa depan demi kebahagiaan keluarga tercinta

Cara Menabung

Kebiasaan menabung orang Indonesia ternyata dari tahun ke tahun tidak berubah. Hanya 47 persen orang Indonesia yang sudah mulai menabung, serta hanya 29 persen yang taat kepada anggaran belanja yang dibuatnya. Demikian hasil Citi Financial Quotient Survey (Survey Kecerdasan Finansial) yang dilakukan setiap tahun.

Sebagai bagian untuk mengedukasi finansial bagi masyarakat Indonesia, Citi telah menayangkan program Uang Anda selama tiga tahun terakhir ini. Menurut Vice President Corporate Affairs Head Citibank N.A Sonitha Poernomo, pemirsa memberikan tanggapan positif dengan memberikan pertanyaan via email telah mencapai jumlah 150 email.

Dari pertanyaan yang masuk selama tiga tahun terakhir, sebut Sonitha, pertanyaan yang paling umum dan sering adalah:
Bagaimana saya bisa menabung dengan pendapatan yang pas-pasan?
Bagaimana cara berinvestasi? Apa yang paling menguntungkan?
Bagaimana memulai usaha dan usaha apa yang paling cocok untuk saya?

Menurutnya, ada 10 cara mudah menabung:

1. CATAT KEBIASAAN ANDA DALAM SEBULAN
Anda tidak perlu kaya raya untuk bisa menabung. Sebenarnya menabung itu sangat mudah, selama pengeluaran Anda lebih kecil dari pendapatan. Sebelum Anda memutuskan untuk menghemat pengeluaran yang mana, Anda harus tahu bagaimana kebiasaan Anda dalam mengeluarkan uang setiap bulannya.

Untuk itu cobalah mulai bulan depan untuk mencatat pengeluaran harian, mingguan dan bulanan. Gunakan buku kecil yang mudah dibawa kemana-mana. Jangan kaget kalau ternyata kebiasaan ngopi yang hanya Rp 25.000 per minggu, sebenarnya bisa mencapai Rp 2 juta setahun. Jika Anda menemukan hal-hal seperti ini, maka berhematlah dengan cara membuat kopi sendiri atau biasakan membawa botol air minum kemanapun Anda pergi. Begitu juga dengan pengeluaran yang lain, untuk beli baju tunggu saja waktu ada SALE dan tentukan batas anggaran yang bisa digunakan saat belanja.

2. SISIHKAN UANG UNTUK ANDA PRIBADI
Kunci kesuksesan menabung adalah untuk menyisihkan uang di awal, sebelum pembayaran hal-hal lain seperti membayar listrik, air dan cicilan. Tentukan tujuan jangka panjang dan secara reguler tabunglah uang Anda dalam tabungan ataupun investasi.

Jika Anda terbiasa untuk berbelanja dan baru berusaha menabung setelah ada sisa uang di akhir bulan, maka umumnya sisa uang yang ada di rekening Anda tidak banyak.

Jangan beri kesempatan untuk boros, siapkan dana hari tua, dana darurat, dan dana kuliah dengan cara automatic transfer. Setiap akhir bulan Anda akan merasa senang bahwa Anda sudah menyimpan sesuatu untuk masa depan.

3. TENTUKAN TANGGAL
Jika Anda mendapat gaji bulanan maka tidak akan bermasalah untuk menentukan tanggal untuk menyisihkan dana, tapi bagi Anda yang menerima upah/gaji tiap dua minggu, maka tentukan satu dari dua tanggal tersebut untuk menyisihkan dana yang akan ditabung. Jika Anda wirausahawan, tentukan tanggal di tengah bulan di saat Anda tidak membayar tagihan-tagihan.

4. BAYARLAH UTANG ANDA
Segera melunasi utang adalah salah satu cara terbaik untuk mempercepat Anda dalam menabung. Hal ini disebabkan karena bunga pinjaman lebih tinggi dari bunga tabungan.

5. JAGA TERUS DISIPLIN ANDA
Setelah utang terbayar, maka teruslah sisihkan dana setiap bulannya ke tabungan, bahkan lebih baik lagi jika tersedia penarikan otomatis untuk dimasukkan ke investasi.

6. MOTIVASI DIRI ANDA UNTUK MENCAPAI HASIL YANG BESAR
Tentukan apa yang Anda inginkan (Sofa Baru, Paket Liburan Keluarga, Home Theatre) dan ketahui berapa jumlah dana yang dibutuhkan, kemudian tentukan cara yang realistis seperti menabung reguler selama enam bulan.

Letakkan gambar yang menunjukkan apa yang Anda impikan di meja kerja, kamar ataupun dompet agar Anda selalu ingat tujuan Anda menabung. Jadi tiap kali ada godaan diskon ataupun SALE di mal, Anda tidak mudah tergoda.

7. BUKA REKENING YANG TIDAK BISA ANDA SENTUH
Untuk pembelian dengan jumlah yang lebih besar, seperti down payment untuk rumah atau mobil, menabunglah perlahan dengan memanfaatkan deposito. Rekening ini umumnya memiliki tingkat bunga lebih tinggi daripada tabungan biasa, dan jangka waktu yang periodenya telah ditentukan. Dengan demikian Anda tidak dapat menyentuhnya saat ada godaan untuk berbelanja, namun tetap dapat dicairkan saat terjadi keadaan darurat.

8. GUNAKAN CELENGAN ATAU TOPLES UNTUK KOIN ANDA
Uang dalam bentuk koin sering dianggap tidak penting, padahal jika dikumpulkan sesuai dengan pepatah “sedikit sedikit lama lama menjadi bukit” Di saat toples atau celengan penuh bisa menambah jumlah tabungan Anda atau dapat digunakan untuk kebutuhan seperti membeli buku tulis anak, hadiah kecil dan lain-lain.

9. KANTONGI BONUS & KEJUTAN LAINNYA
Setiap kali Anda menerima bonus atau hadiah dalam bentuk tunai, langsung masukkan ke rekening tabungan. Uang ini bukan bagian dari penghasilan reguler Anda, sehingga jangan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari Anda dan simpanlah. Jika Anda memiliki utang, gunakanlah dana ini untuk melunasi utang Anda.

10. BIASAKAN HIDUP HEMAT
Terdapat banyak cara untuk berhemat tanpa harus menderita. Bawalah makanan dan air minum dari rumah, gunakan transportasi umum, berhenti merokok, berlibur di saat yang tidak padat (low season), manfaatkan diskon agar memperoleh barang yang Anda “butuhkan” dengan lebih murah, dan masih banyak lagi.

Sabtu, 01 Mei 2010

Tiga Cara Kumpulkan Modal

Mungkin Anda masih ingat ketika beberapa waktu lalu saya membahas tentang cara menghitung modal yang Anda butuhkan kalau ingin membuka usaha? Modal yang Anda kumpulkan untuk usaha terbagi jadi 3: Modal Investasi Awal, Modal Kerja, dan Modal Operasional. Betul?

Sekarang masalahnya, mungkin ada beberapa orang yang setelah membaca tulisan itu, lalu jadi menggerutu sendiri: “Hmm…, ngitung modal, sih, memang gampang. Masalahnya sekarang, gimana caranya supaya modalnya bisa ada? Supaya bisa terkumpul?”

Ini memang bahasan menarik. Karena banyak orang kesulitan mengumpulkan modal usaha. Sebagai contoh, kalau seseorang ingin buka usaha laundry dengan memiliki mesin cuci sendiri, dan ia membutuhkan modal dana sebesar Rp 20 juta, sementara dananya sendiri baru Rp 3 juta, darimana ia bisa mengumpulkan modal?


Ada tiga jalan, kok, untuk mengumpulkan modal untuk usaha:

1. Modal Sendiri

Pertama jelas, kalau Anda ingin buka usaha, Anda bisa pakai modal sendiri. Caranya bisa dengan mengambil dari simpanan yang Anda miliki sekarang, entah dari tabungan atau deposito Anda, atau bisa juga dengan menjual aset yang Anda punya. Sebagai contoh, banyak, lo, orang yang menjual sepeda motornya untuk sekadar jadi modal usaha, atau menjual perhiasan yang dia punya.

Jangan kaget. Menjual barang untuk menambah modal usaha tuh biasa, loh. Yang paling penting, jangan merasa terlalu sayang untuk menjual beberapa aset Anda untuk menambah modal usaha. Contohnya, kalau Anda tidak punya uang untuk modal usaha dan harus menjual perhiasan Anda, ya jual saja. Nanti kalau usaha Anda sudah berhasil, Anda toh bisa beli lagi perhiasan yang lebih bagus. Ya enggak?

2. Pinjam

Meminjam uang untuk modal usaha juga sering dilakukan orang. Dengan meminjam, seringkali usaha yang memang Anda impikan bisa lebih cepat terwujud. Iya, dong, daripada nunggu modalnya enggak ngumpul-ngumpul, mendingan minjem. Cuma, nah ini dia, karena modal itu Anda dapatkan dengan meminjam, ya Anda betul-betul harus memerhatikan cash flow Anda. Ini karena Anda pasti harus mengembalikan uang yang Anda pinjam. Entah dengan mengembalikannya secara bulanan, 6 bulanan, atau mungkin tahunan.

Kuncinya, kalau Anda meminjam, perlu diketahui bahwa banyak orang yang seringkali terlalu fokus kepada bagaimana mereka bisa mendapatkan pinjaman, tetapi tidak memikirkan apa yang bisa mereka lakukan untuk mengembalikan pinjaman tersebut. Jadi, ketika meminjam, cobalah untuk memikirkan bagaimana caranya Anda bisa mengembalikan pinjaman tersebut.

Tipsnya, ketika Anda memikirkan caranya, jangan terlalu optimis bahwa pendapatan dari usaha Anda pasti bisa langsung besar di bulan-bulan pertama. Kalau perlu, buatlah perkiraan sepesimis mungkin. Dari perkiraan yang pesimis tersebut, Anda pasti bisa melakukan penilaian apakah pengembalian yang akan Anda lakukan nantinya bisa lancar atau tidak.

3. Kerja Sama

Wah, daripada Anda pakai modal sendiri semuanya, atau daripada Anda meminjam, kenapa Anda tidak mencoba menjalin kerja sama saja dengan orang lain? Dengan menjalin kerja sama, maka risiko usaha Anda bisa lebih kecil karena harus dibagi bersama teman-teman Anda. Cuma, keuntungan yang Anda dapatkan tentunya harus dibagi juga, dong.

Iyalah, namanya saja kerjasama. Artinya, risiko dibagi, keuntungan juga harus dibagi. Ya, enggak?

Sekarang masalahnya, ada enggak orang yang mau kerjasama dengan Anda? Itu tergantung Anda. Apakah Anda bisa dengan baik menawarkan keuntungan yang masuk akal pada usaha yang Anda tawarkan. Tapi, tawaran keuntungan saja belum cukup, lo. Anda juga harus bisa memberikan pendekatan yang baik, tidak sombong pada orang-orang yang ingin Anda ajak kerjasama.

Satu lagi, kalau bisa, penjelasan yang Anda berikan juga harus masuk akal, seadanya, dan tidak melulu memaparkan keuntungan pada orang yang ingin Anda ajak kerjasama.

Nah, sekarang, Anda sudah tahu bagaimana mengumpulkan modal untuk membuka usaha. Mudah-mudahan dari 3 pilihan tersebut di atas, Anda bisa menentukan pilihan mana yang terbaik.